M-NEWS
Waktumu Tidak Banyak Jakarta!
byMUGOS TEAM
25th, Februari 2021
Comment
news


Ada yang salah dengan rutinnya kota Jakarta berjibaku dengan permasalahan banjir. Meskipun sudah banyak usaha serta tindakan preventif yang dilakukan, banjir nyatanya masih menjadi teror yang belum juga ditemukan jalan keluarnya hingga saat ini.

Warga kota Jakarta tentunya sudah sangat lelah dengan permasalahan tahunan yang satu ini, meskipun lelah, perlu diingat jika pasrah dengan keadaan tidak akan merubah apapun, banjir yang terjadi tahun ini pada akhirnya memang akan surut, namun bagaimana jika tidak? bagaimana jika Jakarta tenggelam?

Kekhawatiran mengenai tenggelamnya Kota Jakarta mungkin sudah tidak lagi terdengar mengerikan bagi sebagian orang, padahal perlu disadari jika ancaman mengenai tenggelamnya kota Jakarta benar-benar sudah ada di depan mata.

Belajar dari pengalaman, awal tahun lalu kita mungkin berpikir jika permasalahan Covid-19 akan selesai dalam hitungan bulan, bahkan tidak sedikit dari kita yang mungkin berpikir jika Covid-19 tidak akan sampai masuk ke Indonesia, kenyataannya jutaan nyawa melayang, sialnya begitu kita telah menyadari hal tersebut, semuanya sudah terlambat. Hal serupa bisa saja terjadi pada Jakarta yang terancam akan tenggelam.

Disadari atau tidak, Jakarta saat ini seolah-olah sedang menenggelamkan dirinya sendiri secara perlahan dan tidak mungkin jika kita tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya. Lebih dari itu, masalah Jakarta bukan hanya terletak pada bagaimana kota tersebut menghindari banjir di saat musim penghujan datang, pergulatan Jakarta dengan air menjadi lebih pelik ketika struktur tanah di Jakarta terus ‘ambles’ setiap tahunnya.

Mengutip dari bisnis.com, Di tahun 2019 lalu Badan Geologi Kementrian ESDM menyebutkan bahwa permukaan air laut di Jakarta Utara berada 1,5 meter di atas permukaan tanah. Hal tersebut bisa jadi disebabkan oleh dua hal, tanah Jakarta yang mengalami penurunan atau volume air laut yang semakin tinggi. Sialnya dua-duanya sudah menjadi bom waktu bagi Jakarta saat ini. Naiknya volume air laut sudah pasti disebabkan perubahan cuaca, sedangkan amblesnya tanah Jakarta disebabkan oleh pembangunan yang tak lagi terkendali.

Permasalahan penurunan tanah atau land subsidence sendiri diyakini sudah terjadi pada tahun 1974 silam, meskipun demikian, ibukota terus dipaksa menahan beban yang sejatinya sudah melebihi batas normal, alhasil di tahun 2010 silam Jakarta Coastal Defence Strategy (JCDS) merilis data yang mengatakan jika sebanyak 40 persen wilayah Jakarta berada di bawah permukaan laut. Adakah tindakan yang dilakukan setelahnya? Tentu saja ada dengan munculnya wacana pembangunan tanggul raksasa di pantai utara Jakarta atau lebih populer dengan sebutan Giant Sea Wall. Pertanyaannya adalah bagaimana progresnya hingga saat ini?

Pembangunan proyek Giant Sea Wall yang kabarnya telah dikembangkan menjadi National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) hingga saat ini masih sering memunculkan perdebatan, di saat yang bersamaan waktu terus berjalan dan Jakarta tidak memiliki banyak waktu lagi. Perlu diingat jika NCICD yang digadang-gadang akan menjadi penyelamat justru pernah jebol bahkan sebelum benar-benar sempurna.

Berapa banyak waktu yang dimiliki Jakarta untuk berbenah? Jika tidak ada tindakan preventif yang nyata, Jakarta diprediksi akan tenggelam pada tahun 2050 sesuai data yang dirilis oleh New elevation data triple estimates of global vulnerability to sea-level rise and coastal flooding yang terbit di jurnal Nature Communications pada 29 Oktober 2019 silam. Agar mimpi buruk tersebut tidak terjadi, apa yang kira-kira harus kita lakukan sebagai individu agar Jakarta tidak hilang ditelan air?

Others source and reference :

Image by : David Mark from Pixabay